[FF/Ficlet] Wanna Do – After Story

Disclaimer : this story based on Kara Jiyoung MV – Wanna Do

Tiba-tiba aku merasa tidak tenang ketika menyadari oppa tidak ada di sampingku ketika aku bangun tadi.

Bukan tanpa alasan aku merasa seperti itu karena sebenarnya sejak semalam aku sudah merasa aneh dengan sikap oppa. Terkadang ia menatapku seolah-olah ingin minta maaf padaku dan ketika aku memergokinya sedang memandangku seperti itu, ia langsung mengalihkan pandangannya pada hal lain yang menurutku tidak penting. Lalu di lain kesempatan aku memergokinya sedang memandangku dengan sangat intens seolah-olah itu adalah saat-saat terakhir ia dapat melihatku. Pandangan matanya seolah-olah sedang merekam semua apa yang dapat dilihat oleh kedua matanya yang terlihat sendu itu.

Mengapa ia melihatku dengan cara seperti itu?

Apa firasatku ini memang terbukti benar? Apa oppa benar-benar pergi meninggalkanku?

Tidak… tidak… aku tidak boleh berpikir seperti itu. Oppa tidak mungkin meninggalkanku. Oppa bilang ia sangat menyayangiku jadi tidak mungkin ia pergi dan aku percaya oppa tidak akan pergi meninggalkanku. Oppa tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain ia.

Dengan pemikiran baru itu semangatku bangkit kembali. Aku pun mulai mencari satu-persatu ruangan yang ada di rumah ini. Aku percaya oppa berada di salah satu ruangan itu. Aku hanya perlu mencari lebih keras lagi karena aku pasti akan dapat menemukannya.

Oppa, eodiya? Pikiranku mulai kembali kacau saat aku tidak berhasil menemukannya di manapun di rumah ini. Pikiranku mulai kembali menyeretku memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya aku pikirkan.

Apa oppa meninggalkanku karena aku sangat berisik? Apa oppa tidak tahan mendengar gerutuanku setiap hari? Atau jangan-jangan oppa meninggalkanku karena aku tidak cukup cantik? Tidak pantas untuk disandingkan dengan oppa yang sangat sempurna itu?

Oppa, eodiya? Aku dapat merasakan pipiku mulai basah.

Semua kenanganku bersama oppa sejak aku pertama kali bertemu oppa kembali berputar seperti sebuah film di benakku. Semua perkataannya, kasih sayangnya, pengertiannya tidak ada yang luput satupun. Kenangan itu membuat air mataku jatuh semakin deras.

Oppa eodiya?

*****

Aku melihat wajah yang sedang tertidur itu untuk terakhir kalinya. Wajah yang sudah mengisi hari-hariku selama beberapa bulan belakangan ini. Wajah yang begitu cantik, polos, dan selalu ceria. Wajah yang tak pernah bosan aku pandangi. Wajah itu pula lah yang sudah memberikanku kekuatan untuk kembali menggenggam masa depan yang selama beberapa tahun belakangan -sebelum aku bertemu dengannya- sudah aku lepaskan.

Perlahan ku elus pipinya yang halus. Aku mengelusnya dengan sangat perlahan karena aku tidak ingin membangunkannya. Aku tidak ingin ia tahu bahwa oppa yang sangat dibanggakannya ini tidak lebih dari seorang pengecut. Seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan. Seorang pengecut yang mengatakan pada gadisnya untuk selalu jujur sementara ia sendiri tidak jujur pada gadisnya. Seorang pengecut yang lebih memilih untuk kabur meninggalkan orang yang paling disayanginya. Gadis yang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain dirinya.

Aku hanya tidak mau ia sedih jika mendengar tentang kebenaran ini. Atau mungkin ia akan pergi meninggalkanku setelah mendengarnya.

Tidak… tidak… gadisku bukan orang seperti itu. Dia tidak akan berbalik meninggalkanku jika aku mengatakan yang sebenarnya padanya.

Tapi aku sungguh tak sanggup melihat reaksinya jika aku mengatakan bahwa penyakitku sudah tak tertolong lagi. Penyakit sialan ini sudah menggerogoti tubuhku sampai habis selama beberapa tahun belakangan ini. Terlebih lagi perlahan-lahan sudah menggerogoti penglihatanku.

Apa kau pikir aku mau membiarkan gadisku melihatku menjadi buta di hadapannya? Menjadi lelaki lemah yang tidak dapat diandalkannya lagi? Maaf jika aku egois. Tapi aku tidak mau keadaanku menjadi suatu beban baginya. Lebih baik aku pergi dengan meninggalkan kenangan yang utuh baginya. Segala kenangan bahagia kami selama ini, sama seperti apa yang kurasakan. Beberapa bulan ini merupakan hari-hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Ia sudah memberikanku banyak sekali kebahagiaan dan aku tidak akan pernah bisa menggantikannya dengan kesedihan dan air mata.

Jiyoung-ah, mianhae! Oppa harap suatu saat nanti kau mengerti. Yang oppa inginkan hanyalah kebahagiaanmu.

I love you.

######

Yosh! Ree’s back dengan sebuah ficlet yang sangat amat tidak jelas. (emang kapan pernah bikin ff yg jelas? ^^;;)

Kali ini sedang mencoba melebarkan(?) sayap ke luar dunia 2MIN makanya nyoba bikin ff dengan cast yang lain. 🙂

Hope you enjoy!

~ree

Advertisements

2 thoughts on “[FF/Ficlet] Wanna Do – After Story

  1. Hai, Ree! Sorry baru sempet kasih komentar sekarang yah T_T

    Ada beberapa yang bisa gw komentari:
    • [“Kenangan itu membuat air mataku jatuh semakin deras.”] Sebenarnya bisa diganti jadi ‘mengalir deras’, lebih sesuai dengan flow paragraf.
    • [Perlahan ku elus pipinya yang halus.] seharusnya bisa pakai kata ‘menyentuh’, karena setelah kalimat itu ada [Aku mengelusnya dengan sangat perlahan karena aku tidak ingin membangunkannya.] Nah, sebelum dielus kan pipinya disentuh dulu. Pengulangan kata pada dua kalimat berbeda yang letaknya berdekatan, sebenarnya agak kurang baik.
    • [Tapi aku sungguh tak sanggup melihat reaksinya jika aku mengatakan bahwa penyakitku sudah tak tertolong lagi.] kata ‘penyakitku’ bisa diganti jadi ‘keadaan’, karena kalimat setelahnya menjelaskan soal penyakit. Biasakan untuk menggunakan kata umum di kalimat pertama dan kata spesifik di kalimat kedua. Ini supaya flow dari cerita bisa lebih ‘ngena’.

    Selain dari komentar minor di atas, aku suka gaya menulismu. Flownya udah oke, feel udah dapet, tinggal penggunaan beberapa kata yang harus disesuaikan supaya lebih ‘ngena’ 😀

    Semoga membantu!

    *menghilang*

    • Hai jg, des! thanks ya udah mampir & ninggalin komen..^^

      terus terang aku juga kurang puas sama ficlet ini, berasa ada sesuatu yg kurang tapi ga tau apa.. ^^;;
      tapi mungkin ya itu, penggunaan kata yang ga tepat (sepertinya terpengaruh dr caraku bicara sehari2 yg kadang suka kebolak2 ^^;;)

      tengKyu ya buat masukannya.. benar2 sangat membantu dan mudah2an bisa tetap diingat jadi ke depannya (itupun kalo bisa bikin lagi :p) bisa lebih baik lagi.. 🙂
      jangan bosan buat mengkritik ffku ya, des.. 🙂

      ~ree

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s