Letter To Jiyoung K.

Seoul, July 29th 2013

Kang Jiyoung!

Apa sebenarnya tujuanmu memintaku menulis surat untukmu? Bukankah kau tahu bahwa aku bukanlah seseorang dengan banyak kata? Aku bahkan hampir saja melempar ponselku ketika kau mengutarakan keinginanmu itu. Apalagi ketika kau bahkan dengan sangat yakin memberikan syarat-syarat. Kata-kata indah? Kalimat puitis? Ck, jangan bercanda!

Jujur saja, aku tak tahu apa yang kau ingin aku katakan dalam surat yang kau paksa harus kukirim ke tempat di mana kau berada saat ini, karena aku tidak mendengarkan perkataanmu ketika aku menghubungimu waktu itu.

Hmm, jadi sekarang tidak masalah kan jika aku mengarang bebas saja? Dari pada tidak sama sekali. Lagipula kupikir dengan mengarang bebas aku dapat sekaligus mempertajam kemampuan bahasaku.

Baiklah, kita mulai dari mana ya sebaiknya?

Kau ingin tahu bagaimana perasaanku saat ini? Tersiksa.

Kau ingin tahu apa yang kualami saat ini? Tertekan.

Kau ingin tahu pendapatku tentangmu saat pertemuan pertama kita? Annoying.

Kau ingin tahu pendapatku sekarang? Berisik. Kekanak-kanakan. Manja. Sangat-Amat-Tidak-Mandiri. Tidak bisa diam (apa kau tidak pernah lelah?). Sangat sensitif. Cengeng.

Apalagi? Cukupkah? Apakah ada yang masih ingin kau ketahui? Jika masih ada, jangan ragu untuk menyebutkannya dalam surat balasanmu.

Yours,

G

note: asli, saya ngerasa surat ini benar2 sangat amat tidak jelas. ^^;; saya nulis ini murni karena emang lagi ga ada kerjaan, sekaligus buat melatih otak saya supaya bisa diajak kerja lagi buat bikin cerita. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Letter To Jiyoung K.

  1. Uwah daebak. Aku tak menyangka orang yang hidup dengan sedikit kata bisa menuliskan surat yang lumayan panjang. ㅋ

    Eh oppa kau mau kuceritakan sesuatu? Kemarin aku diajak gokon di Tokyo. Kau tahu cowok-cowok disini lumayan oke walau aku lebih memilih cowok Seoul sih. Mereka sangat toleran, mau mendengarkanku berceloteh. Tapi aku langsung ingat seseorang yang menutup telinganya ketika aku mulai berbicara. Ada rasa kesal tapi sungguh aku kangen orang itu. Tsuyoshi bilang tertarik untuk mengenalku lebih dekat. Kami bertukar email sih, tapi sampai saat ini dia belum mengirimkan email. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Aku bertemu dengannya di kampus beberapa hari yang lalu. Kutanya apakah dia punya keperluan di kampusku, dia jawab untuk bertemu denganku. Aku terkejut. Dan dia mengajakku nonton film dan menyilakan aku memilih.

    Kurasa dia serius. Padahal kau tahu aku menyebalkan, ribut dan kekanakan kan? Tapi tenang saja oppa. Dia tidak bisa menggetarkan hatiku, karena aku punya oppa. 이힝 ^^

    Ngomong-ngomong ini bukan fiktif belaka loh. Ini sungguhan. Seperti cerita-cerita di drama ya? Kalau di drama pasti oppa memutuskan untuk terbang ke Osaka menemuiku. Tapi ini bukan drama. Oppa pasti sibuk disana, jadi hanya ada satu cara agar oppa tidak kehilangan seseorang yang bisa membuatnya kesal sepanjang hidupnya.

    Kau cukup jawab apakah kau rindu dengan teh crysanthemum buatanku?

    143,
    깡찡♥

    • Oh, jadi menurutmu suratku itu panjang ya? Baiklah kalau begitu, ke depannya aku akan mengirim yang lebih pendek lagi saja.

      YA!! katakan saja kau dari awal memang sudah ada rencana buat selingkuh, ya kan? Tidak perlu sok ‘tidak menggetarkan’. Jujur saja!

      Tidak, tentu saja ini bukan fiktif. Jadi jangan pernah berharap aku akan terbang ke sana untuk menemuimu.

      Sudah. Sangat. Pasti. Aku. Tidak. Merindukan. Teh-ntah-apa-namanya-mu itu.

      G

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s