SUN

image

“Oppa, kau lihat matahari itu? Aku ingin sekali menggenggam kehangatannya,” ujarku sembari menunjuk matahari yang sedang melangkah dengan anggun menuju peraduannya.

Kesibukan kami masing-masing beberapa bulan belakangan ini membuat kami sangat jarang bertemu sehingga ketika hari itu aku dan dia memiliki waktu luang yang sama, kami memutuskan untuk bersantai-santai saja di apartemen. Sore  harinya kami berbaring di sofa-bed yang ada di beranda kamar, menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh langit sore. Mengingat waktu yang sangat terbatas, rasanya lebih berkualitas jika dibanding pergi ke suatu tempat dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pasangan pada umumnya.

Walaupun aktivitas yang dijalani oleh grupnya dan grupku sama, namun jadwal dan tempat yang sering kali berbenturan membuat kami jarang bertemu padahal kami tinggal di atap yang sama. Dan kenyataan itu terkadang membuatku ingin menyerah, berkorban agar tidak ada lagi yang dapat memisahkan kami.

“Rasanya semakin hari aku merasa semakin dingin,” dingin yang kumaksud tidak ada kaitannya dengan cuaca karena saat ini belum memasuki musim dingin.

Pria jangkung yang kuajak bicara ini hanya diam sambil tetap memainkan rambutku. Aku dapat merasakan dia bergerak dan mengeratkan pelukannya di punggungku, mengatakan bahwa  dia akan selalu ada untukku. Menjadi sumber kehangatan jika aku membutuhkannya.

“Oppa…,” aku berbisik di telinganya. Mendengar bisikanku, dia kemudian mengelus punggungku. Sangat nyaman. Sejak awal, pelukannya selalu menjadi tempat ternyaman ketika aku membutuhkan tempat untuk bersembunyi. Membuatku merasa terlindungi dari segala hal yang mengancamku.

Tidak mau kalah, akupun membalas pelukannya seerat mungkin dan membenamkan wajahku di dadanya. Hangat sekali. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku. Rasanya seperti mendengarkan musik klasik yang dapat membuat kita tenang. Ingin sekali rasanya mengatakan padanya bahwa dia adalah tempat paling aman di dunia ini.

“Tapi entahlah, aku merasa bahkan matahari sekalipun tak dapat menghangatkanku. Atau haruskah aku pergi memeluknya?” tanyaku mendongakkan kepala agar aku dapat melihat wajahnya.

Mendengar pertanyaanku itu, dia mengetuk kepalaku perlahan. Ouch! Aku meringis sambil mengusap kepalaku yang menjadi korban priaku ini.

“Kau sudah punya mataharimu sendiri, kenapa masih menginginkan matahari lain? Dasar gadis bodoh,” dia menatapku tepat di manik mataku. Apa dia tahu bahwa tatapannya selalu dapat meneduhkan gejolak yang kurasakan?

“Apa satu masih kurang?” lanjutnya lagi. Apa? Rasanya aku ingin marah padanya karena sudah bertanya sesuatu yang tidak masuk akal, namun ketika aku melihat ada kilatan jenaka di matanya yang tajam itu, seketika aku menghembuskan napas, yang ternyata sempat kutahan selama beberapa saat.

“Oppa, jahat sekali kau!” gerutuan disertai pukulan ringan yang kulayangkan di bahunya membuatnya tertawa ringan. Tawa yang tidak pernah berubah, terdengar seperti alunan musik saat aku mendengarnya.

Aku kembali melingkarkan tanganku di kedua sisi tubuh hangatnya dan perlahan-lahan aku dapat merasakan bebanku mulai terangkat. Selalu seperti itu. Tidak butuh banyak aksi darinya untuk membantuku menghadapi setiap masalah yang kuhadapi.

Aku sangat bersyukur memiliki dia di sampingku. Dulu ketika aku belum bertemu dengannya, setiap masalah yang kuhadapi sering membuatku merasa semakin terhimpit dan serasa ingin melarikan diri ke suatu tempat di mana tak seorangpun dapat menemukanku. Bahkan tak jarang juga membuatku berpikir bahwa mungkin jalan pintas merupakan suatu solusi bagi setiap persoalanku. Namun ketika dia datang, perlahan-lahan dia menyadarkanku bahwa hidup sangatlah berharga. Bahwa masih banyak hal-hal penting lainnya yang dapat kukerjakan selain meratapi setiap persoalanku yang bahkan sangatlah tidak berarti apa-apa jika dibandingan dengan kehidupan yang aku punya, suatu kepastian yang sedang menungguku di depan.

Tidak butuh banyak kata untuk dapat mengerti satu sama lain. Begitu pula dengan kami. Mungkin orang-orang terdekat yang sudah mengetahui hubungan kami akan berpikir bahwa dia sangat terbuka padaku, seperti aku padanya, namun kenyataannya ada kalanya dia dengan mudah membagi apa yang sedang dia rasakan, ada pula kalanya dia hanya diam, seperti saat ini. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi aku tahu bahwa dia sedang menghadapi suatu masalah. Dia tidak menceritakan masalahnya itu, berarti dia tidak ingin aku merasa terbebani oleh apa yang mengganggu pikirannya. Pria bodoh! Tanpa dia berceritapun aku pasti akan tetap mengetahuinya dan ikut merasakan apa yang dia rasakan. Tapi saat ini aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Aku hanya berharap dia tahu bahwa sama seperti dirinya, akupun akan selalu ada di sisinya, menjadi penolong ketika dia membutuhkan seseorang.

Aku tidak tahu bagaimana dengannya, tapi jika kau bertanya padaku, maka aku akan dengan sangat yakin mengatakan bahwa aku sangat bergantung padanya. Saat ini.

……

Hari ini kami kembali bersantai di beranda apartemen. Di tengah kesibukan masing-masing grup kami yang masih belum berakhir, aku bersyukur karena dapat menemukan waktu untuk kuhabiskan bersamanya. Aku duduk bersandar di sofa-bed sementara dia berbaring di pangkuanku sambil membaca sebuah buku. Aku sedang asik membelai rambut tebalnya ketika ponselnya berbunyi dan dengan malas dia bangun mengangkat ponselnya yang terletak di atas meja di sebelah sofa-bed kemudian berjalan menuju pagar pembatas. Aku mendengarnya berbicara sebentar dengan salah satu hyung di grupnya -Sungje Oppa-, setelah itu dia memasukkan ponselnya ke kantong celananya. Bukannya kembali duduk, dia malah tetap berdiri di tempatnya, bersandar di pagar pembatas, dan memandangiku yang sejak tadi memandanginya juga.

“Oppa…,” aku berdiri dan menghampirinya. Aku berdiri di sampingnya dan menengadahkan kepalaku ke langit, menikmati cahaya matahari yang membias di wajahku. Aku menutup mataku dan meresapi setiap berkas-berkas cahaya yang berebut masuk ke setiap pori-poriku. Hangat.

“Apa kau masih merasa kau semakin dingin?” tanyanya.

Aku membuka mataku dan memandangnya, mencari tahu arti dari pertanyaannya. Kemudian aku ingat akan perbincangan kami beberapa hari yang lalu di tempat ini. Aku hanya memberikan cengiranku sebagai ganti jawaban atas pertanyaannya itu. Melihat itu dia hanya berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari melingkarkan tangan kanannya di bahuku. “Aku tahu itu,” katanya.

Dia mengikuti apa yang kulakukan sebelumnya, menengadahkan wajahnya ke langit. Namun berbeda denganku, dia tidak menutup matanya sehingga sedetik kemudian dia mengangkat sebelah tangannya menghalangi cahaya matahari yang menerobos masuk ke matanya.

“Oppa, apa kau tahu sebuah rahasia?”

“Hmm?”

“Jari- jari dan tanganmu indah sekali.”

“Apa itu sebuah rahasia?”

“Tentu saja,” jawabku dengan bangga. Hanya aku yang mengetahuinya dan sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan orang lain mengetahui tentang rahasia itu. Bahwa jari-jari itu, tangan itu telah memberikan banyak hal padaku. Jari itu yang mengetuk kepalaku ketika aku mulai berpikiran negatif, seolah-olah dia ingin mencari di mana diriku yang asli -yang selalu ceria dan optimis- sedang bersembunyi. Tangan itu yang menutup telingaku ketika aku mendengar berita-berita tentangku maupun grupku, agar aku tidak mendengar komentar-komentar negatif dan hanya mendengar berita positif saja. Tangan itu yang menggenggam tanganku ketika aku merasa goyah, seolah-olah ingin memberi tahuku bahwa aku tidak akan jatuh karena dia akan menolongku sebelum aku terjatuh. Atau bahkan jika aku benar-benar terjatuh sekalipun, tangan itu dengan segera akan terulur mengangkatku dari tempat di mana aku terjatuh.

******

Note: Silahkan timpuk saya karena banyaknya keju yg bertebaran. Saya sendiripun tak tahu kenapa bisa seperti ini jadinya. ><“

Advertisements

2 thoughts on “SUN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s