Annihilate

Annihilate

Tokki, apa kau tidak akan menjawabku?” tanyanya sore itu ketika melihatku mengemasi sebuah koper yang berukuran sedang.

“Oh, Bibi…, ya, kalau pesawatnya tidak delay kemungkinan aku akan tiba besok…. Hmm, tidak, mereka tidak ikut. Aku berangkat sendiri,” alih-alih menjawab, aku malah sibuk berkutat dengan ponselku.

Aku dapat melihat dari sudut mataku dia sedang mengusap wajahnya. Mungkin dia tidak menyadari aku memperhatikannya diam-diam karena aku masih sibuk berbicara dengan wanita yang kupanggil Bibi itu. Wajahnya kelihatan sangat tertekan.

Tokki…,”

“Berhenti memanggilku Tokki, Oppa. Aku punya nama.”

Dia hanya menghela napas demi mendengar ucapanku yang sepertinya terdengar cukup ketus, dan aku terlambat menyadarinya ketika aku menatapnya. Aku telah menambah lukanya.

Tolong jangan menatapku dengan cara seperti itu, Oppa. Ku pikir ini memang jalan keluar yang terbaik untuk kita. Untukku.

Saat rasa hangat menyentuh kelopak mataku, aku pun segera memalingkan wajahku, mencari kesibukan dengan berpura-pura merapikan kembali koperku, hanya supaya dia tidak melihat ratapan penyesalanku terhadap akibat dari perkataanku barusan.

Dasar munafik! Mengapa kau tidak jujur saja padanya? Apa kau sungguh-sunggh ingin kehilangan dirinya? Kelak kau pasti akan menyesali tindakan bodohmu ini.

Tidak, aku yakin ini memang yang terbaik. Dia harus tahu bahwa ini semua salah.

Bodoh! Kau sungguh kekanakan.

Diam!

Aku menarik napas cukup dalam untuk menghentikan pikiran-pikiran yang mampu menggoyahkan keputusanku. Aku tahu semua orang pasti akan mengatakan aku bodoh tapi keputusanku sudah bulat. Tidak ada seorangpun yang dapat mengganggu gugat, bahkan meskipun seseorang tersebut adalah dia.

Ketika kurasa semuanya sudah beres, aku pun segera bangkit dan menyeret koper serta berberapa tas berukuran sedang, bersiap untuk berangkat, namun langkahku terhalang tubuh jangkungnya di depan pintu.

Oppa…,” lirihku tertahan sambil menatap manik coklatnya, berharap dia mengerti tanpa harus aku jelaskan lagi.

Dia hanya memandangku tanpa melakukan pergerakan apapun. Matanya yang teduh memandangku seolah-olah dia sedang merekam sesuatu.

“Izinkan aku mengantarmu,” katanya setelah beberapa saat kami hanya diam sembari berusaha mengambil barang-barang bawaanku.

“Aku ingin sendiri, Oppa. Tolong mengertilah,” alih-alih nada tegas yang sudah kurencanakan ingin kutunjukkan padanya, yang keluar dari mulutku malah lebih terdengar seperti orang yang putus asa saja. Aku yakin jika dia mendesakku lebih jauh, tembok yang kubangun dengan tergesa-gesa ini pasti akan hancur seketika.

Sebagian dari diriku berharap pria yang sedang berdiri di hadapanku ini dapat bertindak seperti pria kebanyakan, yang akan marah karena diperlakukan seperti itu -seperti orang yang tidak dianggap sama sekali- kemudian akan berbalik menuntut penjelasan yang menyebabkan tarik-menarik urat dan berbagai drama lainnya dan berujung dengan munculnya suatu tindakan yang aku rasa hanya dilakukan oleh orang-orang agresif saja. Tapi sebagian diriku yang lain segera menepis hal itu. Pemikiran bodoh! Kau tahu itu tidak akan terjadi, dia bukan tipe pria seperti itu. Bukankah itu yang membuatmu jatuh cinta padanya? Karena dia tidak seperti pria kebanyakan. Karena dia selalu tenang, tidak pernah kehilangan kendali dirinya.

Tampaknya keputusanku yang dia rasa sudah final itu akhirnya membuat dia menyerah juga sehingga yang dapat dilakukannya hanyalah memberiku ruang agar aku dapat melewatinya. Aku berjalan ke arahnya dengan ragu -sebagian diriku kelihatannya masih tidak rela jika aku harus pergi darinya- dan ketika dia sudah berada sangat dekat denganku, aku membiarkan diriku yang sepertinya lebih lemah itu mengambil alih otakku sejenak, membisikkan kata yang tanpa kusadari sudah menjadi kidungku selama beberapa waktu ini, dan setelah itu segera berlalu tanpa memiliki keberanian untuk berbalik melihatnya untuk terakhir kalinya.

Oppa… maaf.”

******

Note: Yak, saya kembali setelah sekian lama dengan membawa hadiah akhir tahun. 😀 Selamat menjelang tahun 2015!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s